Sistem Kurs Tukar
Sistem kurs tukar dapat diklasifikasi berdasarkan tingkat sejauh mana kurs tukar dikendalikan oleh pemerintah. Ada empat kategori sistem kurs tukar (Madura,2003:170-174) :
- Sistem kurs tetap. Dalam sistem ini, kurs tukar biasanya konstan atau diizinkan berfluktuasi hanya dalam batasan yang sangat sempit. Jika kurs tukar mulai bergerak terlalu besar, maka pemerintah akan melakukan intervensi untuk menjaganya tetap dalam batasan yang diizinkan. Berdasarkan Bretton Woods Agreement, kurs tukar awalnya harus dalam nilai yang pasti. Penyesuaian baru mulai dilakukan ketika Amerika sering mengalami defisit neraca perdagangan, yang mengindikasikan bahwa nilai dolar mungkin terlalu kuat. Smithsonian Agreement kemudian disetujui pada bulan Desember tahun 1971, yang meminta devaluasi dolar sebesar 8 persen dan batasan untuk pergerakan kurs tukar lainnya diperluas menjadi 2,25 persen. Namun ketidakseimbangan pembayaran internasional terus berlanjut sampai pada bulan Maret tahun 1973 kebanyakan pemerintah di negara-negara besar tidak lagi berupaya mempertahankan nilai mata uangnya berada dalam batasan yang ditentukan oleh Smithsonian Agreement.
- Sistem kurs mengambang bebas. Dalam sistem ini, nilai kurs tukar ditentukan oleh tekanan pasar tanpa adanya intervensi pemerintah. Keuntungan dari sistem ini adalah masalah dari negara lain (seperti inflasi dan tingkat pengangguran) tidak akan merambat (contagion effect). Selain itu, bank sentral dan pemerintah tidak perlu terus menjaga dan memprtimbangkan kurs tukar dalam mengimplementasikan berbagai kebijakan. Kerugiannya adalah bagi negara yang mengalami masalah akan mendapat tekanan yang lebih berat.
- Sistem kurs mengambang terkendali. Kebanyakan sistem kurs yang digunakan negara-negara saat ini berada diantara sistem kurs tetap dan sistem kurs mengambang bebas, yaitu sistem kurs mengambang terkendali. Komponen sistem kurs mengambang bebas ditunjukkan oleh kurs tukar yang diizinkan berfluktuasi pada basis harian tanpa adanya batasan resmi. Komponen sistem kurs tetap ditunjukkan oleh pemerintah yang dapat dan kadang-kadang melakukan intervensi untuk mencegah mata uangnya bergerak terlalu jauh pada arah tertentu.
- Sistem kurs terikat. Beberapa negara menggunakan sistem ini, dimana nilai mata uang mereka diikatkan ke satu atau lebih mata uang asing. Nilai mata uang negara tersebut kemudian menjadi tetap dalam unit mata uang asing yang diikat, namun nilainya akan bergerak sejalan dengan nilai mata uang asing yang diikat terhadap mata uang asing lainnya.
Referensi :
Madura, Jeff (2003), “International Financial Management,” Thomson South-Western, Seventh Edition.
