Popular Posts

Recent Comments


Perdagangan Internasional dan Keuntungan Komparatif (International Trade and Comparative Advantage)

Perdagangan Internasional adalah perdagangan yang dilakukan lintas negara. Negara memproduksi sebagian kebutuhannya sendiri dan mengekspor kelebihannya, kemudian mengimpor apa yang tidak diproduksinya. Kita mungkin bertanya-tanya, kenapa negara melakukan perdagangan internasional, bukannya menikmati semua hasil produksinya sendiri? Jika negara yang memiliki sumber daya yang sangat lengkap, bukankah akan lebih baik ia memproduksi semuanya untuk digunakan sendiri, sehingga ia tidak perlu mengekspor dan mengimpor?

Alasan negara melakukan perdagangan internasional didasari oleh teori Keuntungan Komparatif (comparative advantage), yang akan dijelaskan leih lanjutr di bagian bawah. Namun secara sederhana, adanya perdagangan akan menciptakan spesialisasi, yaitu setiap negara dapat menspesialisasikan pada barang dan jasa tertentu. Spesialisasi akan meningkatkan produktivitas, yang dalam jangka panjang akan meningkatkan standar hidup semua negara yang terlibat didalamnya. Perdagangan internasional merupakan jalan untuk menuju kemakmuran negara-negara.

Perdagangan Internasional Vs. Perdagangan Domestik

Ada tiga perbedaan utama antara perdagangan internasional dengan perdagangan domestik :

  1. Peluang/horizon perdagangan yang lebih luas. Negara-negara bisa menjual barang/jasanya ke negara lain dan bisa membeli barang/jasa dari negara lain. Bayangkan jika tidak ada perdagangan, orang Indonesia tidak akan memiliki mobil, orang Amerika tidak dapat makan pisang, seluruh dunia tidak dapat menikmati film hollywood, dls.
  2. Adanya kedaulatan bangsa. Pada perdagangan internasional, bangsa-bangsa dapat mengatur aliran barang/jasa, tenaga kerja, dan keuangan. Negara-negara menunjukkan kedaulatannya disini. Sementara di perdagangan domestik, aliran perdagangan bebas tanpa regulasi yang berarti dari negara.
  3. Penggunaan kurs tukar. Dalam melakukan perdagangan internasional, negara-negara menggunakan kurs tukar yang berbeda-beda. Pengekspor software dari Amerika ingin dibayar dalam USD, sedangkan pengekspor beras dari Thailand ingin dibayar dengan Bath Thailand. Pengimpor (pembeli) biasanya harus membayar barang impor dengan mata uang negara pengekspor (penjual). Ini berbeda dengan perdagangan domestik yang hanya menggunakan satu kurs tukar. Perdagangan internasional juga membutuhkan sistem keuangan internasional yang dapat memastikan kelancaran aliran mata uang ini.

Sumber-sumber Perdagangan Internasional

Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya perdagangan internasional :

  1. Keragaman/diversitas sumber daya alam. Ini berhubungan erat dengan factor endowment, yaitu apa yang telah dimiliki secara alamiah oleh sebuah negara. Negara-negara misalnya dapat kaya akan minyak, hasil laut, memiliki hutan yang luas, dikelilingi oleh laut, dls. Ini merupakan contoh factor endowment yang dimiliki negara-negara. Negara kemudian memanfaatkan dengan menspesialisasikan pada factor endowment yang dimilikinya. Misalnya, negara yang kaya minyak dan bahan tambang lainnya dapat menspesialisasikan pada produksi minyak dan hasil tambang untuk kemudian di ekspor dan ditukar (mengimpor) dengan apa yang tidak diproduksinya, negara yang dikelilingi lautan dapat menjadikannya sebagai pusat pelabuhan dan transit bagi kapal-kapal perdagangan dunia, dls.
  2. Perbedaan selera (preferensi). Misalnya negara A mampu memproduksi daging sapi dalam nilai yang sama dengan negara B menghasilkan ikan, namun penduduk negara A lebih senang mengkonsumsi ikan dan penduduk negara B lebih senang mengkonsumsi daging sapi. Ini mendorong terjadinya perdagangan internasional antar kedua negara.
  3. Perbedaan biaya. Ini berkaitan erat dengan biaya produksi. Jika negara-negara melakukan spesialisasi, maka skala ekonomis akan tercapai dan biaya produksi per unit akan semakin murah. Produksi barang/jasa tertentu cenderung difokuskan pada negara tertentu, yang memiliki spesialisasi untuk barang/jasa tersebut. Misalnya saja, produksi software cenderung dilakukan di Amerika, produksi fashion kelas dunia di Perancis (kalau yang ini mungkin bukan karena biaya produksi, tapi keunggulan lokasi yang memberi “brand dan kualitas’ tertentu bagi hasil produksi), produksi sparepart mobil banyak dilakukan di Brazil, dan masih banyak contoh lainnya. Selain itu, perbedaan biaya tentunya juga ditentukan oleh harga bahan baku, tenaga kerja, biaya transportasi, dan lainnya.

Teori Keuntungan Komparatif

Teori keuntungan komparatif ini dikembangkan oleh David Ricardo, yang menyatakan bahwa setiap negara akan memperoleh keuntungan jika ia menspesialisasikan pada produksi dan ekspor yang dapat diproduksinya pada biaya yang relatif lebih murah, dan mengimpor apa yang dapat diprosuksinya pada biaya yang relatif lebih mahal.

Ilustrasinya dapat dilihat pada tabel berikut :

Agar terlihat sederhana, diasumsikan ada dua negara (Amerika dan Eropa) dan dua output (pizza dan pakaian). Keduanya memiliki sumber daya masing-masing 120 jam tenaga kerja (TK) untuk memproduksi pizza dan pakaian. Namun Amerika mampu memproduksi i unit pizza dengan 1 jam TK dan 1 unit pakaian dengan 2 jam TK. Sedangkan Eropa membutuhkan 3 jam TK untuk memproduksi 1 unit pizza dan 4 jam TK untuk pakaian.

Sekedar keterangan, Amerika mampu memproduksi keduanya dengan jam TK (input) yang lebih sedikit daripada Eropa. Menurut Teori Keuntungan Absolut (Absolute Advantage), Amerika seharusnya memproduksi keduanya sendiri. Namun tidak demikian menurut teori keuntungan komparatif. Kita lihat perbandingannya dibawah dengan menggunakan teori keuntungan komparatif :

Sebelum melakukan perdagangan, produksi di kedua negara menghasilkan upah riil yang berbeda bagi TK. Upah riil bagi TK di Amerika adalah 1 pizza atau 1/2 pakaian. Sementara di Eropa, upah riil TK hanya 1/3 pizza atau 1/4 pakaian. Artinya upah di Eropa lebih rendah dibandingkan di Amerika dan TK di Eropa memiliki daya beli yang relatif lebih kecil. Ini tentunya juga menimbulkan perbedaan biaya produksi, dan jika pasar adalah persaingan sempurna, harga pizza dan pakaian akan berbeda di kedua negara.

Sementara itu, mari kita lihat berapa total output yang mampu diproduksi kedua negara tanpa melakukan perdagangan. Jika diasumsikan dari total 120 jam TK (input) yang tersedia di tiap negara separuhnya dialokasikan untuk produksi pizza dan separuhnya lagi dialokasikan untuk produksi pakaian, maka total produksi kedua negara adalah sebagai berikut :

Dengan input 120 jam TK yang dimiliki masing-masing negara, jika dialokasikan separuh-separuh, Amerika mampu memproduksi 60 pizza (60 jam TK / 1) dan 30 pakaian (60 jam TK / 2). Sedangkan Eropa mampu memproduksi 20 pizza (60 jam TK / 3) dan 15 pakaian (60 jam TK / 4). Dengan demikian, total produksi yang dihasilkan kedua negara adalah 125 unit, yang terdiri dari pizza dan pakaian.

Menurut teori keuntungan komparatif, Amerika seharusnya hanya memproduksi pizza dan Eropa memproduksi pakaian. Ini karena produksi pakaian relatif lebih mahal bagi Amerika, dengan rasio harga produksi 2 dibandingkan dengan 4/3 yang mampu diproduksi Eropa (lihat gambar 1). Sedangkan pizza relatif lebih mahal bagi Eropa karena rasio harga produksinya adalah 3/4 dibandingkan dengan 1/2 yang mampu diproduksi Amerika (lihat gambar 1). jadi, perbandingan dalam teori ini adalah berdasarkan harga relatif di kedua negara, bukan hanya di satu negara.

Sebenarnya, jika tidak ada regulasi larangan ekspor-impor, perdagangan antar ekduanya akan tercipta secara alamiah. Jika keduanya terus memproduksi pizza dan pakaian sendiri (tidak melakukan perdagangan), maka akan terjadi perbedaan harga yang akan mendorong arbitrasi. Dengan asumsi biaya transpotasi tidak ada atau relatif sangat kecil, Amerika kemudian akan mengekspor pizza ke Eropa dan Eropa akan mengekspor pakaian ke Amerika. Karena biaya produksi yang lebih murah, harga pizza Amerika yang diekspor juga akan lebih murah dan ini mendorong harga pizza di Eropa turun. JIka harga pizza di eropa terlalu rendah bagi produsen Eropa, mereka akan menutup produksinya karena tidak menguntungkan lagi. Akhirnya mereka akan beralih ke produksi yang lebih menguntungkan, yaitu pakaian. Sedangkan kebutuhan pizza di Eropa akan dipenuhi dengan impor. Hal yang sama juga terjadi terhadap pakaian di Amerika. Pada akhirnya, perbedaan harga akan membuat Amerika hanya memproduksi Pizza dan Eropa hanya memproduksi pakaian.

Setelah melakukan perdagangan, total output kedua negara adalah sebagai berikut :

Pada gambar diatas, Amerika menggunakan semua inputnya (120 jam TK) untuk memproduksi pizza saja, sehingga menghasilkan 120 pizza (120 jam TK / 1). Sedangkan Eropa menggunakan semua inputnya untuk memproduksi pakaian saja, sehingga menghasilkan 30 pakaian (120 jam TK / 4). Ternyata total output kedua negara meningkat dengan melakukan spesialisasi produksi ini, yaitu menjadi 150 unit.

Ilustrasi diatas menjelaskan mengapa negara-negara perlu melakukan perdagangan internasional dan bagaimana negara yang terlibat saling memperoleh keuntungan.



17 Responses to “Perdagangan Internasional dan Keuntungan Komparatif (International Trade and Comparative Advantage)”

  1. thanks….


  2. keunggulan komparatif yah.


  3. olraite.. absolutely thanks.. ^_^


  4. bagusssss…
    Thk’q…


  5. Halo vhe, trims juga ya….


  6. selamt pagi/sore
    kenalka saya dari timor leste minta bantuan saudara/i tentan teori dari David Ricardo Tentan Biaya Komparatif dala Perdaganagan internasional


  7. Itu kan teorinya udah ada di post. Dibaca aja…


  8. thanks infonya…brarti bgt nih infonya coz dah bebal nih otak saya..satu almamater nih sya FH-95 mrican, tpi dah plg kmpung ke jakrta lg ngambil international trade lawm di UI jd infonya ngebantu bgt…tengkyu bgt jeng..


  9. thanks tas informsinya………………..,V lw ane butuh inform gee.. kasih tw yaaaaaaa.


  10. Thanks for posting, I’ll definitely be subscribing to your blog.


  11. tx a lot yach, bsok ujian ney, manfaat bgt.


  12. Thanks for you posting this Documents


  13. thanks for ur posting.


  14. Comments


  15. BAB. I
    PENDAHULUAN

    Dalam bab ini akan disajikan situasi problematik yang menjadi dasar bagi perumusan masalah penelitian yang hendak dipecahkan ke dalam bab-bab selanjutnya. Kemudian ada bebarapa rangkaian tujuan dan manfaat penelitian yang harus di capai dalam penelitian.

    1.1 Latar belakang masalah.
    Dalam dua puluh lima tahun terakhir ini telah terjadi revolusi korporasi yang bersifat mendasar. Industri yang sebelumnya bertumpu pada aset wujud fisik (tangible physical assets) mengalami transisi menuju ekonomi baru, yakni produksi barang dan jasa serta penciptaan nilai (value creation) menjadi tergantung pada aset nirwujud (intangible assets) (Daum, 2003). Saat ini makin dikenali bahwa aset nirwujud dan pengelolaannya yang efektif merupakan sumber keunggulan kompetitif yang berkelanjutan (Tanaszi & Duffi, 2000). Maka degan itu RA merupakan suatu dasar teori yang sangat mendukung untuk melakukan pengkajian terhadap resources yang dimiliki oleh industry Indonesia ketika memasuki pada pasar persaingan yang tidak sempurna.
    Resource Advantage Theory pentingnya peran dan kontribusi dapat dilihat pada perbandingan antara nilai buku (book value) dan nilai pasar (market value) pada perusahaan-perusahaan padat pengetahuan (knowledge base). Pada perusahaan-perusahaan ini nilai buku perusahaan (book value) dibandingkan dengan nilai pasar (market value) seringkali berada di bawah 10%. Sebagai contoh, pada akhir tahun 1999, aset bersih Microsoft yang tercantum dalam neraca – hanya 6,2% dari nilai pasar sebesar US$ 469 milyar.
    Demikian pula sebuah perusahaan pemimpin pasar untuk ERP (Enterprise Resource Planning) dan e-business software solution di Jerman, pada akhir tahun 1999 nilai aset bersih perusahaan tersebut hanya 4,6% dari nilai pasarnya atau nilai pasar lebih dari 21 kali dari nilai aset bersih yang tercantum dalam Neraca Perusahaan (Daum, 2003). Mulai dua dekade yang lalu dapat dicermati bahwa proses produksi telah berubah; faktor produksi tradisional seperti sumberdaya alam, pekerja dan kapital telah banyak kehilangan signifikansinya.
    Pada saat yang sama input aset nirwujud seperti informasi dan knowledge telah meningkat signifikansi perannya. Pada industri garmen knowledge merupakan main stream yang sangat kuat dan aset nirwujud mempunyai kontribusi peran yang penting. Industri garmen Indonesia tentu tidak dapat mengisolasi diri dari perkembangan dan persaingan regional maupun global. Tantangan dan permasalahan yang akan dihadapi oleh industri garmen Indonesia akan semakin kompleks.
    Harmonisasi regulasi garmen ASEAN yang akan diberlakukan selambat-lambatnya pada tahun 2010 akan melahirkan pasar tunggal garmen ASEAN. Ini membawa implikasi yang luas dan lanskap persaingan industri garmen akan sangat berbeda dengan keadaan sebelumnya. Produk-produk garmen akan lebih leluasa keluar masuk diantara negara-negara anggota ASEAN tanpa adanya barrier baik tariff barrier maupun non-tariff barrier (Sampurno, 2005).
    Dengan format industri yang fragmented, R&D yang lemah dan persaingan yang makin tajam di masa depan, apakah industri garmen Indonesia mampu menghadapi persaingan di pasar domestik dan di pasar regional? Dalam konteks ini penting untuk diketahui/diteliti signifikansi peranan aset nirwujud pada kinerja perusahaan garmen Indonesia, karena aset nirwujud adalah sumber keunggulan kompetitif yang berkelanjutan (sustainable) (Villalonga, 2002).
    Lebih lanjut perlu diketahui pada komponen aset nirwujud apa pada industri garmen Indonesia harus lebih diperkuat untuk meningkatkan daya saingnya agar tetap mampu menguasai pasar domestik dan sekaligus mampu memperluas pengembangan pasar ekspor terutama pasar Asia Tenggara.
    Pada sisi lain industri Indonesia terlebih PT. Daya Manunggal yang saat ini diperhadapkan dengan persoalan persaingan, dengan berbagai produk dari luar, dengan harga terjangkau dan kualitas menjanjikan. Hal ini merupakan salah satu faktor persaingan.

    PT. Daya Manunggal merupakan salah satu industri garmen, tentuya tidak terhindar dari pada krisis global, Namun untuk menghadapi persaingan baik di pasar domestik maupun di pasar Global PT. Daya Manunggal tetap exksis dan tetap mempertahankan karyawan sebanyak 2800 orang diera persaingan antara industri dan pada era krisis keuangan global, keunggulan –keunggulan tersebut apakah karena memiliki resource Advantage atau karena perusahaan memiliki resource lain seperti misalnya memilki keunggulan pangsa pasar di pasar global seperti di Amerika, Brasil, Iran,atau memiliki keuangan. Keunggulan –keunggulan tersebut menglatar belakangi penulis untuk mengambil judul RAT, dan memilih PT. Daya Manunggal sebagai salah satu obyek didalam penelitian.
    Dalam penelitian untuk mengukur resource apa saja yang dimanfaatkan oleh PT. Daya Manunggal dalam menghadapi krisis global terjadi di America sampai merambat ke seluruh Negara. Di dalam penelitian ini juga untuk melihat apakah faktor keuntungan sumber daya menjadi suatu keuntungan kompetitif kepada PT. Daya Manunggal.Resource Advantage Theory merupakan salah satu ilmu yang diformuliasi dari pada manajemen strategi yang digunakan atau diterapakan ketikan industri memasuki pada pasar global dan.
    Dimana RA lebih memfokus pada bagaimana industri memanfaatkan sumberdaya yang dimilki untuk mengungguli perusahaan lain. Artinya bahwa pemanfaat sumberdaya secara efektif untuk menghadapi daya saing.

    1.2. Persoalan Penelitian
    Persoalan penelitian adalah pernyataan yang merupakan perasaan atau kesimpulan dari uraian megenai situasi problematic (Ihlauw,2003:194).Berdasarkan latar belakang masalah diatas,maka peneliti dapat merumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
    1. Bagaimana rancangan penerapan Resource Advantage Theory (RAT) untuk PT. Daya Manunggal?
    2. Apa hambatannya penerapan Resource Advantage Theory (RAT)?
    1.3. Tujuan Penelitian.
    1. Apakah cocok bilamana Resource Advantage Theory diterapkan untuk PT. Daya Manunggal?
    2. Bilamana rancangan RA tidak sifgnifikan untuk diterapkan, faktor apa saja yang mempengaruhinya, sehingga rancangan RA tidak dapat diterapkan di PT. Daya Manunggal.

    1.4.Manfaat dan Penelitian
    Adapun manfaat dari penelitian adalah sebagai berikut:
    1. Manfaat praktis untuk digunakan oleh kalangan para manajer PT. Daya Manunggal dalam menganalisa pasar ketika masuk pada pasar global untuk berkompetisi.
    2. Maanfaat Teoritis sebagai dasar bagi peneliti yang lain untuk ditelusuri lebih
    lanjut tentang bagaimana manfaat dan keuntungan penerapan RAT (Resource Advantage Teori ) perusahaan di indoesia.
    3. Untuk pengembangan rancangan model Resource Advantage Theory dalam konteks industry Indonesia?


  16. thanx…..dah baek abis mau posting teori perdagang internasional………….tp kl bisa sih dikasi lengkap….


  17. met sore/siang/malem…………….


Post a Comment