Moving Averages (rata-rata bergerak)
Moving averages (MAs) adalah garis yang menunjukkan rata-rata fluktuasi harga dipasar agar menjadi tren yang lebih halus dan mudah diamati, sehingga kemungkinan distorsi dalam pengamatan tren dapat diminimalkan. Perubahan tren harga diidentifikasikan dengan harga yang memotong MAs, bukan dengan arah MAs yang berbalik. Ada banyak variasi dari moving averages yang digunakan di analisis teknikal. Beberapa yang paling umum adalah : simple moving averages (SMA), weighted moving averages (WMA), dan exponential moving averages (EMA). (Pring, 2002 : 154)
1 Simple Moving averages
Pring (2002:154-156) menyatakan bahwa simple moving averages (SMA) adalah MAs yang paling banyak digunakan. Perhitungannya dilakukan dengan menjumlahkan variabel dari data dan membagi totalnya dengan jumlah observasi. Hasilnya disebut dengan average atau mean average. Agar rata-rata tersebut “bergerak”, variabel data yang baru kemudian ditambahkan dan variabel data yang pertama dihilangkan. Total yang baru kemudian dibagi dengan jumlah observasi, demikian juga untuk proses selanjutnya.
Secara umum, MAs yang naik mengindikasikan kekuatan pasar dan MAs yang menurun mengindikasikan kelemahan pasar. Perubahan tren pasar dari naik menjadi turun diindikasikan dengan harga yang memotong MAs kearah bawah. Sedangkan sinyal bullish diindikasikan dengan harga yang memotong MAs kearah atas. Sinyal beli dan jual yang jelas dari penggunaan MAs mengurangi masalah subjektivitas dalam interpretasi tren harga. Tingkat keakuratan tergantung dari pemilihan MAs dan volatilitas dari komoditas ataupun sekuritas. Menurut Pring (2002:160-161), panjang MAs juga berpengaruh dalam keakuratannya. Secara umum, semakin panjang rentang waktu, semakin tinggi reliabilitas dari indikasi yang diberikan. Pemilihan MAs tergantung pada jenis tren pasar yang akan diidentifikasi, apakah jangka pendek, menengah, atau panjang. Pasar yang berbeda memiliki karakteristik yang berbeda dan bahkan pasar yang sama melalui fenomena siklus yang berbeda. Oleh karena itu, tidak ada rentang waktu MAs maupun metode teknikal lainnya yang sempurna.
Ada beberapa prinsip teknikal dalam interpretasi MAs, yaitu (Pring, 2002 : 157) :
1. MAs merupakan versi halus dari tren, dan rata-rata dari MAs merupakan area support dan resistance. Pada pasar dengan tren bullish, reaksi harga seringkali berbalik arah (sesuai tren bullish) begitu berada di area support dari MAs. Sama halnya, pergerakan harga naik pada tren pasar bearish sering berbalik arah (sesuai tren bearish) apabila menyentuh titik resistance dari MAs.
2. MAs yang dipilih dengan baik seharusnya dapat merefleksikan tren yang sedang berlaku, sehingga pemotongan MAs adalah peringatan bahwa perubahan tren mungkin telah terjadi.
3. Jika pemotongan terjadi selagi MAs masih bergerak di arah tren sebelumnya dengan kuat, ini dapat merupakan peringatan awal bahwa perubahan tren telah terjadi.
4. Secara umum, semakin panjang rentang waktu MAs, semakin signifikan sinyal yang diberikan.
5. Perubahan arah MAs biasanya lebih dapat diandalkan daripada pemotongan MAs. Pemotongan MAs adalah setiap penetrasi MAs.
SMA ada yang menggunakan lebih dari satu MAs, atau disebut berganda. Sinyal ditunjukkan dengan pemotongan keatas maupun kebawah MAs yang lebih panjang oleh MAs yang lebih pendek. Prosedur ini memiliki keuntungan dari adanya perhalusan data sebanyak dua kali dan memperingatkan perubahan tren lebih cepat. (Pring, 2002 : 167)
2. Weighted Moving Averages
Pring (2002:168-170) menjelaskan bahwa WMA berbeda dengan SMA dalam hal perlakuan terhadap data. WMA memberikan faktor penimbang terhadap data, sehingga data tidak memperoleh porsi yang seimbang dalam perhitungan average. Tujuannya adalah agar dapat menangkap sinyal perubahan tren lebih cepat dari SMA, karena WMA lebih memperhitungkan data harga yang lebih baru dibandingkan data harga yang lebih lama. Penimbang biasanya diberikan pada observasi yang paling baru.
Ada berbagai cara menimbang data, namun yang paling sering digunakan adalah teknik dimana periode data yang pertama dikalikan satu, yang kedua dikalikan dua, yang ketiga dikalikan tiga, dan seterusnya sampai periode data paling baru. Perhitungan untuk setiap periode kemudian dijumlahkan dan dibagi dengan jumlah penimbang. Dibandingkan dengan SMA, interpretasi WMA lebih sensitif karena lebih mencerminkan tren harga paling baru. Perubahan arah tren harga lebih ditunjukkan dengan perubahan arah average daripada pemotongan.
3. Exponential Moving Averages
Menurut Pring (2002:170-171) EMA merupakan jalan pintas untuk memperoleh perhitungan sejenis WMA secara lebih cepat. Untuk menghitung EMA, diperlukan perhitungan SMA terlebih dulu. Average dari SMA kemudian digunakan sebagai titik awal EMA. Perhitungan untuk periode (MAs) selanjutnya dibandingkan dengan EMA dari titik sebelumnya, dan selisihnya ditambahkan atau dikurangkan. Selisih tersebut lalu dikalikan dengan eksponen dan ditambahkan ke EMA periode sebelumnya.
Faktor eksponen yang digunakan bervariasi tergantung dari rentang waktu MAs. Jika EMA terlalu sensitif dalam menunjukkan arah tren, maka periode waktu dapat diperpanjang. Cara lain dapat dengan menambahkan EMA lain, dengan eksponen yang lebih besar.
Referensi :
Pring, M.J. (2002), “Technical Analysis Explained,” McGraw-Hill International Edition, Fourth Edition.
